Jumat, 28 Maret 2014

Abu-abu

Aku duduk, menatap langit yang mengabu. Menunggu sesuatu yang membuat ku lelah untuk beranjak dari keabu-abuan ini. Aku benci abu-abu. Jika memang itu hitam, menghitamlah. Tapi jika putih, memutihlah. Mengapa harus ada abu-abu? Mengapa harus ada ketidakjelasan? Mengapa tidak pernah ada kata pasti dalam keabu-abuan?

Aku menunggu mu dalam keabu-abuan. Menunggu mu keluar dari asap kelabu itu. Menunggu mu memilih apakah hitam atau putihkah pihakmu? Menunggu mu ingin menambahkan cat hitam lebih banyak atau cat putih lebih banyak?

Aku lelah.
Aku lelah dalam setiap keabu-abuan dirimu. Aku ingin beranjak, Aku ingin bergerak. Tapi aku lupa, Aku mencintai mu dalam kelabu. Aku mencintai mu dalam kata yang tak dapat di jelaskan hitam kepada putih yang menjadikan nya kelabu. Aku mencintai mu dengan aliran darah yang mengabu ini. Aku lupa, bahwa aku hidup dalam keabuan mu.

Kelabu.... itulah warna mu. Ingin ku hapus kelabu dalam daftar nama warna, tapi aku ingat... bahwa kelabu adalah pelangiku. Kamu adalah pelangiku. Jika merah, kuning, dan hijau adalah warna pelangi sesungguhnya. Aku berdoa kepada Tuhan untuk selalu mengabu-kan pelangiku. Karena tanpa kelabu mu, pelangi ku tak berwarna. Tak secerah itu.

Aku mencintai mu dalam keabu-abuan. Dan selamanya akan begitu. Karena hidupku akan terus mengabu, pelangiku dan kamu akan terus kelabu.

Aku hidup dalam abu-abu. Kamu pun abu-abu. Langit pun mengabu.


Are u black or white?




Regards,
Grey.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar