Nasional. Is. Me
Apa yang kalian pikirkan jika mendengar Nasionalisme? Pasti kebanyakan berfikiran ke-'empet'-an akan sebuah pelajaran... Ya, Pendidikan Kewarganegaraan.
I think nope, there's nothing wrong with nasionalism.
Gue adalah orang Indonesia yang Indonesia banget. Gue gak tau ada rasa yang melonjak marah disaat ada yang menghina negara tercinta, Indonesia. Mungkin kalian juga merasakan itu..... karena pada dasarnya mencintai tanah air adalah doktrin yang sudah ada semenjak kita masih menjadi zigot di dalam tubuh ibu kita.
Pernahkah kalian berpikir,
Bagaimana ya jika 68 tahun yang lalu Soekarno-Hatta tidak memproklamirkan Indonesia?
Bagaimana ya jika para pejuang itu tidak berjuang demi kemerdekaan Indonesia?
Bagaimana ya hidup kita sekarang jika kita belum merdeka?
Itu hanyalah beberapa pertanyaan yang muncul dalam otak-otak anak zaman milenium yang tidak merasakan hidup di zaman penjajahan. Tidak pernah merasakan ketakutan saat keluar rumah, takut salah di tembak dan mati di tempat. Tidak pernah merasakan ketakutan saat berbicara dan berpendapat. Tidak pernah merasakan betapa di kekang nya hak-hak kewarganegaraan kita. Tidak pernah merasakan rasanya di tindas dan di 'tunduk'kan.
Kalian tahu betapa berat nya mengangkat kepala 68 tahun yang lalu?
Karena ketidakbiasaan kita untuk mengangkat kepala dan berkata "YA", kita menjadi bangsa penunduk yang hanya berguna untuk di peras dan di manfaatkan tanpa memberontak.
Tapi sekarang, what do you see? I see a mess in our country.
Satu hal yang gue benci dari negara ini adalah 'fanatisme agama', pertama-pertama yang dilihat kalau mau memilih pemimpin adalah 'agama'.
Kenapa agama? Itu kan hal pribadi kita sama Tuhan kan?
Agama tidak menentukan seberapa tinggi your intellegency kan?
Kenapa kita harus melihat dari sudut pandang tersebut?
Gini aja deh, Gak usah jauh-jauh.
Kalau ada acara Indonesian Idol, XFactor, atau apapun, yang dilihat agama? Emang agama bisa bikin suara lo lebih bagus dari pada agama yang lain? Lucu. Sangat lucu.
Entah mengapa negara kita ini manusia nya terlalu berpikiran sempit.
Kefanatikan menyempitkan pengetahuan, menurut saya.
Contoh saja, Ingin pergi ke salah satu tempat keagaman untuk melihat sejarah tetapi dalam posisi kita bukan dalam agama tersebut. Orang fanatik akan bepikir, "Ih.. itu kan tempat keagaman agama ini! memang sih bagus. tapi gak mau ah!" Padahal banyak yang bisa di pelajari dari tempat tersebut.
Dan hal yang lebih membuat perut menggelitik adalah ketika negara ini terlalu berisik dengan agama berbanding lurus dengan tingkat korupsi. Please deh, kalo lo ngaku punya agama. Kenapa tingkah lo seperti tidak beragama?
Jaman sekarang nasionalisme sudah semakin mengecil dan di tinggalkan. Lucu nya banyak sekali disana kurang lebih 700an orang yang mengaku bernasionalisme tinggi dengan sejuta embel-embel pembangunan tapi hasilnya sama adalah BULLSHIT. Orang-orang berkemeja tebal, Ya, setebal wajah mereka. Dengan sejuta embel mereka merebutkan kursi kayu penuh kekuasaan!
Nasionalisme? BIG NO!!
Boro-boro mikirin nasionalisme, pikirin dulu berapa puluh kartu ATM yang harus di penuhi lagi. Menebalkan dompet dengan uang hasil keringat orang bawah, tanpa memikirkan apa yang mereka kerjakan. Kejam!
Orang di negara kita ini tumbuh semakin sensitif. Semuanya berasa kayak cewek lagi pada datang bulan. Kesinggung dikit, meja hijau. Tapi jaman dulu? semua bisa di selesaikan dengan kata 'maaf'.
Jaman sekarang, manusia tumbuh dengan keegoisan dan kemunafikan.
"Lets build our Indonesia, because Indonesia is in our hands, hold it or throw it?"
Semoga generasi kita jangan jadi generasi pura-pura lupa dengan perkataan soekarno tentang "JAS MERAH" (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah)
Hal yang terpenting yang perlu kita hargai dan kita syukuri kepada Tuhan YME, atas kemerdekaan yang kita miliki sekarang. Gue gak membayangkan, lagi mau beli permen, di tembak. Lucu, dan konyol. Mati konyol. Kalian tahu ada berapa ratus orang yang mati konyol hanya untuk memerdekakan Indonesia?
Hargai. Karena NASIONALISME ADALAH HARGA MATI!
Nasionalism itu perlu dalam kehidupan berbangsa dan negara. Mulai sekarang, tanamkan nasionalisme dalam diri kalian.
" 'even i told u guys, Nasionalism is my middle name."
Kamis, 20 Februari 2014
Rabu, 19 Februari 2014
Cokelat Rasa Tahi
Seperti biasa, Pagi ini terlihat biasa-biasa saja. Cahaya matahari menusuk tajam, masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Biasa saja.
Mata bengkak bekas keluarnya air terjun kehancuran semalam.... perih mengering.
Semua nya terlihat baik-baik saja. Meski dada ini masih terasa sakit, sehabis hujaman hujan batu ciptaan manusia purba jaman megalitikum menghantam jantung rapuh ini.
HANCUR. TAK BERSISA.
Aku harap begitu, tak tersisa rasa sedikit pun untuk mu.
Sepotong roti di oleskan rasa penyeselan yang tak kunjung berhenti, menyiratkan luka bakar yang hangus di makan masa lalu.
Tidak, aku berhayal.
Itu hanyalah sepotong roti beroleskan cokelat hambar yang tergerus oleh rasa manis yang terpancar mekar keluar dari setiap inci tubuh kekar mu.
Tidak, aku berhayal.
Itu hanyalah sepotong roti beroleskan cokelat hambar yang tergerus oleh rasa manis yang terpancar mekar keluar dari setiap inci tubuh kekar mu.
Mengapa mataku selalu berkata bahwa senyuman mu lah yang termanis? Bahkan cokelat pun rasa tahi, tetapi senyuman kecilmu lebih manis dari pada cokelat.
Senyum mu bagai candu bagi lidah dusta ku.
Aku benci,
disaat kau pergi dan membuat dunia ku tawar memahit.
disaat kau pergi dan membuat dunia ku tawar memahit.
Siksa bagi ku adalah saat tak pernah lagi ku lihat sunggingan manis di bibirmu yang bagaikan morfin pada luka ku.
Seakan-akan lebih baik aku mati masuk dalam penjerat tikus daripada harus lama-lama hidup tanpa menghirup oksigen yang mengandung harum tubuh mu.
Candu itu lah nama depan mu.
Mencintaimu adalah nama belakang ku.
Tidak, Aku tak boleh mencintaimu. Lagi.
Candu itu lah nama depan mu.
Mencintaimu adalah nama belakang ku.
Tidak, Aku tak boleh mencintaimu. Lagi.
Memang, Aku biasa-biasa saja.
atau Berpura-pura biasa-biasa saja?
Aku harap selama aku bersama mu dulu, Aku tak pernah memakan tahi yang disulap menjadi cokelat.
Jika benar, Itu adalah tahi termanis yang pernah ku rasakan.
Ubud, 18 Februari 1998
Jumat, 07 Februari 2014
Pergi Diam Diam
Ku menatap layar ponsel ku, Tak ada tanda-tanda kehidupan dari salah satu nomer handphone yang kuletakan di kolom favorite itu. Sunyi, sepi, bagaikan tak bernyawa. Ku menunggu di sudut ruangan terpojok di dalam hidupku, Menantikan cahaya pelangi yang kian tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Lenyap begitu saja di ruang mimpi fatamorgana, Aku tidak pernah membayangkan hidupku tanpa mencium aroma wangi parfum natural dari tubuh Indonesia-mu itu. Tak berada di dekatmu selama berbulan-bulan merupakan siksa bagiku.Tak melihat mata cokelat milik mu, bagaikan cambukan bagi jiwaku yang meronta. Aku belum siap menerima jika kau yang harus duluan meninggalkan lingkaran perasaan ini. Pedih dan sakit membuat cairan panas dari dua benda bulat sensitif ini keluar tak terbendung.
Apakah disana ada wanita lain yang membuatmu meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun? Secantik apa dia? Seberapa mempesonakah dirinya sampai-sampai kau meninggalkan hati yang remuk redam ini? Sampai kan pesan ku padanya, bahwa dia beruntung memiliki mu, yang sebenarnya tak benar-benar kumiliki dulu. Hanya gelak tawa yang mampir di bibir indah mu saat ku katakan semua ini, Ya, mungkin kau ingin mengobatiku dengan tawamu, tapi tawa mu membuat gelapku semakin mendekat.
Begitu ingatnya aku pada pertemuan pertama kita, 9 tahun lalu.Dikala rambutku masih di kuncir dua, dan kaus kaki mu masih setinggi lutut.Pertemuan yang selalu di selangi gelak tawa bersama teman-teman baru kami. Bocah, ya itulah kami. Tapi sekarang bocah-bocah imut itu telah bertumbuh menjadi manusia dewasa yang memiliki perasaan yang lebih dari seorang teman bermain.
Semua nya begitu cepat berlalu, mengalir begitu saja, hingga malam ini. Ketika aku menulis diary-ku, tak sengaja cairan suci dari mata ini keluar begitu saja dengan derasnya, membawa luka yang tak kunjung kering, semakin derasnya keluar, semakin aku menyadari bahwa mencintai mu adalah kesalahan terbesarku, karena kamu tak pernah benar-benar mencintaiku. Hingga sudah saat nya, kamu harus pergi, meninggalkan luka goresan sedalam palung di samudra raya, meninggalkan tumpahan air mata yang siap menganak samudra hindia, dan bodohnya, Aku masih disini menunggu mu yang telah pergi, atau sebenarnya tak pernah datang bahkan mampir dalam hidupku. Terlalu bodoh, sampai-sampai Aku memaksakan takdir bahwa engaku hanya miliku padahal aku tak benar-benar milikmu karena Aku tak pernah di ingini. Pertemuan pertama yang di selangi gelak tawa, berakhir dengan tangisan yang sebenarnya tak ada akhirnya, siap-siap memenuhi dataran di sekitar pasifik raya. Memandang langit hitam kelam...... Bagaikan tiada akhir dari sebuah penantian.....Penantian yang tak berakhir, Membuat ku sadar bahwa kau tak pernah datang.
Aku bodoh, untuk membaca signal yang salah dari gerak-gerik mu yang hanya mengingini ku hanya sebagai teman.
Maafkan aku. Aku pergi.
Jakarta, 17 Maret 2023
Langganan:
Postingan (Atom)
