Jumat, 07 Februari 2014

Pergi Diam Diam


Ku menatap layar ponsel ku, Tak ada tanda-tanda kehidupan dari salah satu nomer handphone yang kuletakan di kolom favorite itu. Sunyi, sepi, bagaikan tak bernyawa. Ku menunggu di sudut ruangan terpojok di dalam hidupku, Menantikan cahaya pelangi yang kian tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Lenyap begitu saja di ruang mimpi fatamorgana, Aku tidak pernah membayangkan hidupku tanpa mencium aroma wangi parfum natural dari tubuh Indonesia-mu itu. Tak berada di dekatmu selama berbulan-bulan merupakan siksa bagiku.Tak melihat mata cokelat milik mu, bagaikan cambukan bagi jiwaku yang meronta. Aku belum siap menerima jika kau yang harus duluan meninggalkan lingkaran perasaan ini. Pedih dan sakit membuat cairan panas dari dua benda bulat sensitif ini keluar tak terbendung.

Apakah disana ada wanita lain yang membuatmu meninggalkan ku tanpa sepatah kata pun? Secantik apa dia? Seberapa mempesonakah dirinya sampai-sampai kau meninggalkan hati yang remuk redam ini? Sampai kan pesan ku padanya, bahwa dia beruntung memiliki mu, yang sebenarnya tak benar-benar kumiliki dulu. Hanya gelak tawa yang mampir di bibir indah mu saat ku katakan semua ini, Ya, mungkin kau ingin mengobatiku dengan tawamu, tapi tawa mu membuat gelapku semakin mendekat.

Begitu ingatnya aku pada pertemuan pertama kita, 9 tahun lalu.Dikala rambutku masih di kuncir dua, dan kaus kaki mu masih setinggi lutut.Pertemuan yang selalu di selangi gelak tawa bersama teman-teman baru kami. Bocah, ya itulah kami. Tapi sekarang bocah-bocah imut itu telah bertumbuh menjadi manusia dewasa yang memiliki perasaan yang lebih dari seorang teman bermain.

Semua nya begitu cepat berlalu, mengalir begitu saja, hingga malam ini. Ketika aku menulis diary-ku, tak sengaja cairan suci dari mata ini keluar begitu saja dengan derasnya, membawa luka yang tak kunjung kering, semakin derasnya keluar, semakin aku menyadari bahwa mencintai mu adalah kesalahan terbesarku, karena kamu tak pernah benar-benar mencintaiku. Hingga sudah saat nya, kamu harus pergi, meninggalkan luka goresan sedalam palung di samudra raya, meninggalkan tumpahan air mata yang siap menganak samudra hindia, dan bodohnya, Aku masih disini menunggu mu yang telah pergi, atau sebenarnya tak pernah datang bahkan mampir dalam hidupku. Terlalu bodoh, sampai-sampai Aku memaksakan takdir bahwa engaku hanya miliku padahal aku tak benar-benar milikmu karena Aku tak pernah di ingini. Pertemuan pertama yang di selangi gelak tawa, berakhir dengan tangisan yang sebenarnya tak ada akhirnya, siap-siap memenuhi dataran di sekitar pasifik raya. Memandang langit hitam kelam...... Bagaikan tiada akhir dari sebuah penantian.....Penantian yang tak berakhir, Membuat ku sadar bahwa kau tak pernah datang.

Aku bodoh, untuk membaca signal yang salah dari gerak-gerik mu yang hanya mengingini ku hanya sebagai teman.

Maafkan aku. Aku pergi.

Jakarta, 17 Maret 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar