Mata bengkak bekas keluarnya air terjun kehancuran semalam.... perih mengering.
Semua nya terlihat baik-baik saja. Meski dada ini masih terasa sakit, sehabis hujaman hujan batu ciptaan manusia purba jaman megalitikum menghantam jantung rapuh ini.
HANCUR. TAK BERSISA.
Aku harap begitu, tak tersisa rasa sedikit pun untuk mu.
Sepotong roti di oleskan rasa penyeselan yang tak kunjung berhenti, menyiratkan luka bakar yang hangus di makan masa lalu.
Tidak, aku berhayal.
Itu hanyalah sepotong roti beroleskan cokelat hambar yang tergerus oleh rasa manis yang terpancar mekar keluar dari setiap inci tubuh kekar mu.
Tidak, aku berhayal.
Itu hanyalah sepotong roti beroleskan cokelat hambar yang tergerus oleh rasa manis yang terpancar mekar keluar dari setiap inci tubuh kekar mu.
Mengapa mataku selalu berkata bahwa senyuman mu lah yang termanis? Bahkan cokelat pun rasa tahi, tetapi senyuman kecilmu lebih manis dari pada cokelat.
Senyum mu bagai candu bagi lidah dusta ku.
Aku benci,
disaat kau pergi dan membuat dunia ku tawar memahit.
disaat kau pergi dan membuat dunia ku tawar memahit.
Siksa bagi ku adalah saat tak pernah lagi ku lihat sunggingan manis di bibirmu yang bagaikan morfin pada luka ku.
Seakan-akan lebih baik aku mati masuk dalam penjerat tikus daripada harus lama-lama hidup tanpa menghirup oksigen yang mengandung harum tubuh mu.
Candu itu lah nama depan mu.
Mencintaimu adalah nama belakang ku.
Tidak, Aku tak boleh mencintaimu. Lagi.
Candu itu lah nama depan mu.
Mencintaimu adalah nama belakang ku.
Tidak, Aku tak boleh mencintaimu. Lagi.
Memang, Aku biasa-biasa saja.
atau Berpura-pura biasa-biasa saja?
Aku harap selama aku bersama mu dulu, Aku tak pernah memakan tahi yang disulap menjadi cokelat.
Jika benar, Itu adalah tahi termanis yang pernah ku rasakan.
Ubud, 18 Februari 1998

Tidak ada komentar:
Posting Komentar