Dikala hujan turun,
membasahi pipi ku,
seperti tak ada cairan kepedihan yang jatuh dari dalam bola mata ini,
bak tetesan darah pada kain kesumba,
tak terdeteksi...
kau tahu?
Hati yang remuk membusuk dalam kerangka tubuh ini,
terbungkus oleh sunggingan indah di bibir...
Oh, pedihnya...
Layaknya sel-sel otak ku yang terus menjelajah keruang masa lalu,
menelaah setiap detik, menit, jam, hari....
hanya ingin mengingat mu,
yang dulu ada disisi ku.
Aku benci.....
disaat puluhan gunung menghalangi,
Ribuan kilometer jarak mengambilmu dari ku,
Bahkan selat, memutuskan pertemuan...
Aku ingin amnesia,
melupakan segala cerita tentang kita,
bak menghapus tulisan kertas dengan penghapus karet,
bahkan ketika aku tahu bahwa tak semudah itu.
Aku hanya ingin bilang.....
Ah,
Aku merindukan mu.
Sabtu, 02 November 2013
Kamis, 31 Oktober 2013
Mimpi Sang Putri Kodok
Aku adalah aku
Aku bukan manusia sempurna
Aku bukan seorang putri keraton
Aku tak di kenal, apalagi di elukan
Aku bukan seorang pesolek manis nan bidadari
Aku hanyalah sang puteri kodok yang duduk dalam singgasana lumpur beceknya
Tapi kamu,
Kamu bak pangeran pewaris tahta yang gagah perkasa,
Semua mata memandang mu terpaku oleh aura mu yang membuat hati melonjak
Bagaikan melihat aurora dalam langit malam....
360 kata tidak dapat menggambarkan mu, oh dewa ku.
Memandang mu....
membuatku membisu,
dengan kata yang takterucapkan...
dengan nafas yang tersengal-sengal...
Hanya mata yang penuh dengan cairan luka hati yang memenuhi kantung samudera raya
karena aku sadar bahwa memiliki mu hanyalah bunga tidur yang membuatku ingin mati suri.
Goresan-goresan rasa yang abstrak menyentuh canvas hati ini,
membuat setiap coretan tak berarti,
bak alunan melodi gitar yang mengiring sepi,
diam....
tenang.....
menelaah keruang mimpi...
Aku ingin......
Kau, disini, untuk ku.
Ah sudahlah,
Aku hanya sedang bermimpi.
Aku bukan manusia sempurna
Aku bukan seorang putri keraton
Aku tak di kenal, apalagi di elukan
Aku bukan seorang pesolek manis nan bidadari
Aku hanyalah sang puteri kodok yang duduk dalam singgasana lumpur beceknya
Tapi kamu,
Kamu bak pangeran pewaris tahta yang gagah perkasa,
Semua mata memandang mu terpaku oleh aura mu yang membuat hati melonjak
Bagaikan melihat aurora dalam langit malam....
360 kata tidak dapat menggambarkan mu, oh dewa ku.
Memandang mu....
membuatku membisu,
dengan kata yang takterucapkan...
dengan nafas yang tersengal-sengal...
Hanya mata yang penuh dengan cairan luka hati yang memenuhi kantung samudera raya
karena aku sadar bahwa memiliki mu hanyalah bunga tidur yang membuatku ingin mati suri.
Goresan-goresan rasa yang abstrak menyentuh canvas hati ini,
membuat setiap coretan tak berarti,
bak alunan melodi gitar yang mengiring sepi,
diam....
tenang.....
menelaah keruang mimpi...
Aku ingin......
Kau, disini, untuk ku.
Ah sudahlah,
Aku hanya sedang bermimpi.
Aku sedang bergurau.
Ya, Aku sedang mabuk,
Aku sedang mabuk dengan alkohol pesona mu.
Biarkan langit menyampaikan rasa yang tak tersampaikan ini..
Seandainya kamu tahu.......
Bahwa aku ada,
Aku ada,
Aku ada di setiap sudut terjauh dimana kau ada.
Semoga semesta mempertemukan kita di keindahaan yang lain.....
Langganan:
Postingan (Atom)
