Kuhabisan setegak jus mangga terakhir tersisa di sela-sela
gelas itu.
Tak terasa detik demi detik jalan begitu terburu-buru,
mendesakku untuk memuntahkan isi hati ini,
Sesak…..
Penuh…..
Ingin muntah. Memuntahkan berliter-liter rindu yang telah
terikat rapat dalam dada rapuh ini….
Rasa rindu yang mengganggu ku di setiap detik otak ku
menjelajah ruang waktu, Mencari mu yang dahulu selalu ada di sisiku. Namun
sekarang pergi tak berbekas…
Menunggu mu kembali adalah hal yang kulakukan setiap detik
semenjak kau meninggalkan raga ini.
Seandainya sang waktu dapat mengerti, tak akan ada rindu...
Tak akan ada cairan hangat yang siap membanjiri….
Disini hanya ada aku, dan segelas jus mangga.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk disini menunggu
mu, dan aku lupa sudah berapa kali aku memesan jus mangga. Aku pun lupa sudah
berapa bulan terganti….. Aku lupa.
Menunggu mu pulang seperti menunggu salju pada bagian
tropis.
Artikan sendiri itu apa…..
Artikan sendiri itu apa…..
Tanpa mu langit tak berbintang, dan bulan pun tak seterang
biasanya.
Jika jarak tak setajam ini, tak sejauh ini, aku ingin
meraihmu….
Menggapai mimpi kita bersama, tapi apa daya jarak tak
mengerti.
Jarak tak berperasaan, hingga dia memisahkan setengah jiwaku di tempat berbeda.
Jarak tak berperasaan, hingga dia memisahkan setengah jiwaku di tempat berbeda.
Dan ini, jus mangga terakhir.
Aku harap kamu datang dalam 30 menit.
Walau datang hanya untuk sepatah kata berpisah.
Aku rela.
Kuhabisan setegak jus mangga terakhir tersisa di sela-sela
gelas itu.
Terimakasih, Aku pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar